Sejarah Perjuangan FoKEI

Sejalan dengan pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia, tumbuh pula kelompok-kelompok studi Ekonomi Islam, terutama di kampus-kampus yang berkompeten dalam bidang ekonomi Islam.

Perniagaan yang Tak Akan Pernah Merugi

Semua manusia sepakat, meskipun secara tidak tertulis, bahwa target mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan, mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan. Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya. Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.

Sekilas Perbankan Syari'ah Indonesia

Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional. Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan.

Industri Keuangan Syari'ah NTB Maju Pesat

Industri keuangan syariah maju pesat. Selama lima tahun terakhir ini, keseluruhan asetnya mencapai Rp 144 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai lebih dari 40 persen. Bandingkan dengan pertumbuhan perbankan nasional yang mencapai 19 persen. Sedangkan pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan syariah secara nasional Rp 112,8 triliun. Jumlah tersebut untuk permodalan 40 persen dan modal kerja sisanya 60 persen.

Kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq Dalam Perekonomian

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu dari sahabat Nabi saw. Beliau juga merupakan khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi saw. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang adil dan jujur, sehingga menjadi tempat bertanya dan berlindung bagi kaumnya.

Sabtu, 21 November 2015

Contoh Soal Olimpiade Ekonomi Islam ORISA 2015



Bismillahirrahmanirrahim.. 

Untuk memenuhi janji kami kepada para peserta Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA sederajat se NTB, Alhamdulillah hari ini kami dapat berkesempatan untuk membagikan contoh soal OEI ORISA 2015. Semoga dapat dipergunakan sebaik-baiknya. 
Terimakasih... 

Silahkan Download Disini

Kamis, 19 November 2015

Obrolan Seputar Bunga Bank (ObSeBuBa)


Bunga Bank

Oleh : L. Marthayadi Zikrullah

Pendahuluan
Banyak hal dalam kehidupan ini yang menjadi pertanyaan dalam benak setiap insan. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Dahulu taka ada orang yang bertanya tentang pesawat terbang, karena memang kita tahu dahulu belum ada yang namanya pesawat terbang. Tapi di zaman sekarang bertanya tentang itu adalah suatu hal yang biasa. Begitu pula tentang riba, hanya saja riba sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sebelum Nabi Muhammad diutus sebagai nabi. Sebagaimana kita kenal sekarang sebagai istilah riba jahiliah. Riba jahiliah secara sederhananya adalah riba dalam hutang piutang yang apabila yang berhutang terlambat dalam mengembalikan hutangnya, maka akan dikenakan denda sekian persen. Dahulu jenis riba ini sangat popular dan sekarang pun sangat popular.
Pada istilah di zaman sekarang, riba jarang disebut oleh orang. Alasannya mungkin karena takut akan perniagaan atau usaha yang dijalani atau ada alasan lainnya. Yang dikenal di zaman ini adalah istilah “bunga”. Dahulunya tak dikenal tapi sekarang sangat popular dimasyarakat. Riba dimanipulasi dengan sesuatu yang indah. Ketika mendengar tentang bunga, maka yang akan terpikir dibenak orang awam adalah bunga yang ada di taman atau di halaman rumah. Padahal bunga dengan riba tak jauh beda, bahkan bunga termasuk dalam bagian riba.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah bunga diartikan sebagai imbalan jasa untuk penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari modal pokok. Dikatakan sebagai imbalan jasa padahal hakikatnya bukan imbalan jasa. Inilah insya Allah yang akan kita bahas pada tulisan ini. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kepahaman ilmu untuk menyelesaikan tulisan ini.
 b
Pokok bahasan
1.                 Benarkah bunga bank itu riba..?
2.                 Beda bunga dan balas jasa..? 

Pengertian Riba

Menurut bahasa berarti Ziyadah atau tambahan, tumbuh, tinggi dan naik. Menurut Etimologi ilmu fiqih, artinya yaitu : Tambahan khusus yang dimiliki salah satu dari dua pihak yang terlibat tanpa ada imbalan tertentu.

Dalil tentang Keharaman Riba

Riba dalm islam sudah menjadi hal yang maklum atas keharamannya. Dari al-Qur’an, al-hadits dan ijma’ para ulama semuanya mengatakan bahwa riba itu haram.
Berikut diantara dalil keharamannya:
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)." (Ar-Ruum : 39)
"Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih." (An-Nisa : 160-161)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." (Ali-Imran : 130)
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah : 275)
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (Al-Baqarah : 276)
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman."  (Al-Baqarah : 278)
Dalil yang mengharamkan Riba dari As-Sunnah
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Hadits Abu Hurairah Bahwa Nabi SAW bersabda :
"Hindarilah tujuh hal yang membinasakan." Ada yang bertanya, "Apakah tujuh hal itu wahai Rasulullah? "Beliau menjawab, "Menyekutukan Allah, membunuh jiwa dengan cara yang haram, memakan riba, memakan harta anak yatim, kabur dari medan perang, menuduh berzina wanita suci yang tidak ada memiliki pikiran untuk zina mu'mihan.” (Shahih Bukhari, 2560 ; Muslim, 129.)
Masih banyak dalil akan keharaman riba baik dari hadits-hadits Nabi SAW maupun penjelasan dari para ulama, namun karena keterbatasan sumber ilmiah dan waktu, sehingga hanya ini yang bisa kami sebutkan disini. Wallahu’alam.

Jenis-jenis riba :

Secara garis besar, riba ada dua jenis yakni riba dalam hutang piutang dan riba dalam jual beli. Riba utang piutang terbagi menjadi dua jenis yakni Riba Qardh dan Riba Jahiliyah. Sedangkan riba dalam jual beli dibagi menjadi Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah.
A.               Kelompok pertama, Riba Qardh dan Riba Jahiliyah
1.                 Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang diisyaratkan terhadap yang terutang (muqtaridh). Misalnya meminjam dengan sejumlah uang kemudian dengan disyaratkan adanya kelebihan dari pinjaman tersebut, artinya pinjaman pokok ditambah dengan kelebihan atau disamakan dengan bunga. Intinya ada kelebihan saat pengembalian pinjaman.
2.                 Riba Jahiliyah
Utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang telah ditetapkan. Artinya ada denda akibat tidak mampu membayar hutangnya. Hal itu adalah riba yang jelas tersebar luas ditengah masyarakat pada masa jahiliyah, lalu melihat kondisi sekarang semakin marak dilestarikan baik individu maupun bank-bank modern di masa sekarang ini.

B.               Kelompok kedua, Riba Fadhl dan Riba Nasi'ah
1.                 Riba Fadhl
Pertukaran antar barang yang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang yang ribawi. Contohnya, emas 4 gram ditukar dengan emas 5 gram, maka ini termasuk riba karena beratnya tidak sama. Kalau emas dijual atau ditukar dengan emas, maka harus sama beratnya dan harus diserahterimakan secara langsung.
Diriwayatkan oleh Abu Said al-Kudri Bahwa Rasulullah SAW, bersabda :
"Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (tunai). Barang siapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah".( HR. Muslim)
2.                 Riba Nasi'ah
Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi'ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.
Seperti contoh dimana emas dijual dengan perak atau sebaliknya, atau satu mata uang dijual dengan mata uang yang lainnya, hal ini mengandung riba apabila qabdh (penyerahannya) dilakukan dengan penangguhan atau tidak secara langsung, maka apabila terjadi demikian tetap diharamkan. Tetapi apabila terjadi transaksi dimana menukar antar satu mata uang yang berbeda, seperti mata uang satu negara ditukar dengan mata uang negara lain dan dilakukan pada saat itu juga atau secara langsung (spot), maka hal ini diperbolehkan.
Riba Nasi’ah juga terkadang disebut sebagai Riba Jahiliyah. Wallahu’alam.
Jenis Barang Ribawi
1.                 Alat pertukaran yaitu Emas dan Perak, baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya;
2.                 Bahan makanan pokok, seperti ; beras, gandum, jagung, serta bahan makanan tambahan, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

Apakah Bunga Bank itu Riba’ ?

Ijma’ ulama sepakat bahwa bunga Bank termasuk riba. Kesepakatan  itu terjadi berkali-kali di forum ulama Internasional sejak tahun 1973 sampai saat ini. Di tahun 1976 telah dilaksanakan Konferensi Ekonomi Islam se-dunia di Mekkah yang dihadiri 300 ulama dan pakar keuangan Islam. Tak seorang pun di antara pakar ekonomi Islam itu menolak kaharaman bunga bank. Bahkan sebelum tahun 1976, yakni tahun 1973, seluruh ulama OKI yang berasal dari 44 negera sepakat tentang keharaman bunga bank tersebut. Di Indonesia sendiri, Komisi Fatwa MUI juga sudah mengeluarkan fatwa terkait keharaman bunga bank.
Tapi timbul pertanyaan, kenapa dia termasuk riba sementara dalam pengertiannya bunga bank adalah imbalan jasa untuk penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari modal pokok.
Mari kita tinjau pernyataan tersebut. Bunga dalam teori dan praktiknya terdapat empat jenis bunga dari sisi seberapa besar jumlah bunga yang akan ditarik dari nasabah, yakni; bunga flat, bunga efektif, bunga anuitas dan bunga mengambang. Semuanya itu adalah bentuk utang yang dalam pengembaliannya nasabah diwajibkan membayar lebih dari pokok yang dipinjam. Inilah yang dimaksud imbalan jasa oleh para bankir. Mereka menyebutnya imbalan jasa disebabkan karena pihak bank telah membantu nasabah untuk memberiikan pembiayaan atas usaha yang dijalaninya sehingga berhak mendapat imbalan jasa. Mereka menyamakannya dengan seorang dokter yang memperoleh imbalan jasa karena telah berhasil menyembuhkan pasiennya dengan perawatan yang diberikannya.
Dalam akad utang piutang tidak dikenal namanya imbalan jasa. Karena seberapapun besarnya imbalan jasa yang akan dibayar oleh nasabah, baik dia rela atau pun tidak tetap ia adalah termasuk riba. Terserah mau dinamakan apa. Riba meski rela sama rela, tetap riba/haram. Mekipun sedikit tambahan yang dikembalikan, tetap dia riba. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jika akad utang piutang itu memperoleh manfaat meskipun dalam bentuk selain dari uang semisal mendapat bantuan atau kemudahan dalam suatu pekerjaan atau yang laainnya, maka tetap ini dilarang. Dalam kaidah fiqh dikatakan bahwa “setiap manfaat yang diperoleh dalam utang piutang adalah riba”.
Manfaat yang dimaksudkan sangat umum, maka kita perlu berhati-hati dalam masalah ini. Msalah riba adalah permasalahan besar, bukan masalah yang sepele. Pertanggungjawaban di akhirat amatlah besar. Dosa riba paling rendah adalah sama dengan berzina dengan ibu sendiri. Lalu dimana kehalalannya?
Kalau kita memperhatikan dari definisi riba dan penerapan bunga bank dalam memberikan pembiayaan kepada masyarakat, maka kita akan menemukan kesamaan diantaranya:
1.                 Bunga bank adalah tambahan pembayaran atas akad utang piutang yang dijalankan. Riba juga demikian, riba adalah ziyadah atau tambahan.
2.                 Besarnya tambahan pengembalian telah ditentukan diawal, begitupula riba. Riba qardh prinsipnya sama dengan poin ini.
3.                 Bunga tidak memperhitungkan jumlah keuntungan, tetapi dihitung dari pokok pinjaman. Begitupula riba, riba tak mengenal rugi. Konsepnya adalah mengambil tambahan dari nasabah tanpa melihat keadaan si nasabah. Bunga yang diambil tetap sama.
Sekiranya inilah sedikit poin persamaan antara bunga dengan riba. Pada intinya bunga adalah sebab utama hancurnya perekonomian sebuah Negara. Indonesia sampai saat ini hutangnya belum juga lunas karena dijerat riba/bunga. Karena untuk diketahui bahwa Allah dan rasul-Nya berperang melawan pelaku riba. Maka adakah yang bisa menang melawan Allah..?
Beda bunga dan Balas Jasa
Untuk lebih mmemperjelas poin ini. Seperti yang telah kami sampaikan dimuka bahwa, bunga dikatakan termasuk dalam imbalan jasa/balas jasa. Balas jasa ini muncul karena pihak bank telah memberikan bantuan kepada nabah berupa pembiayaan/pinjaman. Untuk kita ketahui bersama, pembiayaan modal atau pinjaman kepada nasabah bukanlah jasa, tapi ia lebih dekat kepada jenis dari bantuan social. Dan bantuan social tentunya tidak mengharapkan kembali dari pihak yang dibantu.
Mari kita telusuri logikanya. seorang dokter berhak menerima jasa atas perawatan yang diberikannya kepada pasien. Dia telah mengeluarkan keringat, tenaga dan pikiran serta modal untuk merawat pasiennya, maka dari sisi ini ia berhak mendapat imbalan balas jasa dari pasien. Seorang tukang ojek, ia mengeluarkan tenaga, mengeluarkan keringat, mengeluarkan uang untuk membeli bensin, mengorbankan waktu untuk mengantar penumpangnya. Oleh karena itu dia sangat pantas untuk memperoleh imbalan jasa atau upah dari usahanya tersebut.
Seorang yang terkena bencana alam atau musibah kecelakaan berhak mendapat sumbangan atau bantuan baik berupa infaq atau sedekah. Kondisinya ia sangat lemah, punya kekurangan, dan layak untuk dibantu. Boleh jadi orang yang terkena bencana ini datang kepada bank untuk meminjam uang dalam rangka membangun kembali usahanya. maka sangat zalim sekali jika bank mengenakan bunga dalam pinjaman tersebut kepada orang yang baru terkena musibah. Bayangkan dia harus membayar lebih dari hutang yang seharusnya. Bank tidak memperhitungkan keadaan orang tersebut dalam pengembalian pinjaman.
Jika disamakan dalam ilustrasi pertama diatas seperti seorang dokter dan tukang ojek untuk menyamakan bunga dengan imbalan jasa, maka tidak cocok dari beberapa sisi:
1.                 Imbalan jasa timbul dari jasa yang telah dilakukan orang tersebut kepada dirinya. Sementara pinjaman derbunga bukanlah jasa, melainkan jenis bantuan social yang disyaratkan.
2.                 Imbalan jasa tidak memiliki variasi bentuk pengembalian sebgaimana bunga. Bunga memiliki empat bentuk cara pengembalian atau perhitungan. Bunga flat, efektif, mengambang dan  anuitas.
3.                 Pinjaman pada dasarnya dikembalikan sebesar pokok pinjaman. Contoh, mana mungkin orang yang meminjam Rp. 1.000 akan mau mengembalikannya sebesar Rp. 5.000
4.                 Imbalan jasa adalah balas jasa atau upah sementara bunga adalah tambahan pengembalian.
5.                 Produk dari imbalan jasa adalah sebuah jasa, sedangkan bunga produknya adalah uang.
Semoga dapat dipahami. Wallahu’alam.


 


Daftar Pustaka:
Al-Muslish, Abdullah"Fikih Ekonomi Keuangan Islam" (Pentrj : Abu Umar Basyir), Jakarta : Darul Haq, 2004. 
Syafi'i Antonio, Muhammad "Bank Syariah: Dari Teori ke Praktek, Jakarta : Gema Insani Press, 2001.

Minggu, 15 November 2015

Hukum Mendepositokan Uang Di Bank

 

 

Oleh: ustadz Said Yai Ardiansyah, MA

Pengertian Deposito

Salah satu produk yang diterbitkan oleh bank adalah deposito. Deposito adalah tabungan berjangka yang tidak boleh diambil sampai habis jangka waktu yang disepakati dengan mendapatkan prosentasi keuntungan dari uang yang didepositokan. Apabila mengambil uang yang telah didepositokan, maka akan terkena denda yang telah ditetapkan oleh bank.
Contoh dari penerapan deposito ini dimisalkan sebagai berikut:
Joko ingin memanfaatkan produk deposito. Dia mendepositokan uangnya sebesar Rp 50 juta dalam jangka waktu 3 bulan. Bunga deposito selama setahun adalah 5 %. Jadi dalam sebulan dia mendapatkan = Rp 50 juta x 5 % : 12 bulan = Rp 208.333,33/bulan. Kemudian penghasilan tersebut dipotong pajak penghasilan 20 %. Dengan demikian Joko dalam tiga bulan mendapatkan Rp 208.333,33 x 3 bulan = Rp 625.000,00 , sebelum dipotong pajak.
Joko tidak perlu khawatir dengan uang yang didepositokannya. Uang tersebut pasti mendapatkan keuntungan walaupun tidak begitu besar. Meskipun bank sedang pailit atau merugi, bank tetap harus membayarkan keuntungan/bunga dari uang yang didepositokan Joko.
Di lain sisi ada juga produk serupa yang diterbitkan oleh beberapa Lembaga Keuangan Syariah. Mereka menamakannya dengan mudharabah atau bagi hasil. Mereka menyatakan bahwa uang modal yang di-mudharabah-kan akan digunakan untuk usaha yang halal, sehingga menghasilkan keuntungan yang dapat dibagi setiap bulannya. Mereka menetapkan keuntungan yang besarnya diprosentasekan dari modal. Meskipun mereka menyatakan bahwa prosentasenya bisa berubah-ubah tergantung keadaan bank, tetapi keuntungan masih didapatkan meskipun bank dalam keadaan merugi atau usahanya merugi.
Bagaimana sebenarnya memahami kasus seperti ini? Apakah hal ini termasuk keuntungan yang halal ataukah hal ini mengandung unsur riba? Jika ini riba, bagaimana seharusnya solusi terbaik yang diberikan?

Memahami Riba

Sebelum kita membahas permasalahan ini, penulis perlu tekankan bahwa kita jangan terpengaruh dengan istilah/penamaan yang digunakan oleh berbagai lembaga keuangan. Kita harus melihat kepada hakikat transaksinya sehingga kita bisa menghukumi setiap permasalahan dengan tepat.
Kita juga harus paham bahwasanya yang dimaksud dengan riba atau lebih spesifik disebut riba nasiah adalah mengambil keuntungan dari hutang yang dipinjamkan.
Riba diharamkan oleh Allah secara mutlak, baik tambahannya banyak maupun sedikit, baik berupa uang lebih maupun manfaat atau jasa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan:
وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ
“… Dan riba jahiliah dihapuskan. Riba pertama yang saya hapuskan dari riba-riba kita adalah riba ‘Abbas bin Abdil-Muththalib. Sesungguhnya riba tersebut dihapuskan semuanya.”[Muslim no. 1218.]
Imam Asy-Syafii rahimahullah pernah menerangkan:
وَكَانَ مِنْ رِبَا الجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَكُوْنَ لِلرَّجُلِ عَلَى الرَّجُلِ الدَّيْنُ فَيَحِلُّ الدَّيْنُ ، فَيَقُوْلُ لَهُ صَاحِبُ الدَّيْنِ : تَقْضِيْ أَوْ تربي ، فَإِنْ أَخَّرَهُ زَادَ عَليْه وَأَخَّرَه
“Di antara bentuk riba jahiliah adalah seseorang memiliki hutang kepada orang lain, kemudian hutang tersebut jatuh tempo, kemudian orang yang meminjamkan uang berkata, ‘Engkau bayar atau engkau tambahkan (ribakan)?’ Jika dia ingin mengakhirkannya, maka dia menambahnya.”[Lihat: Ma’rifatu As-Sunan Wal-Atsar lil-Baihaqi VIII/29 no. 3395]
Zaid bin Aslam rahimahullah pernah berkata:
كَانَ الرِّبَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَكُونَ لِلرَّجُلِ عَلَى الرَّجُلِ الْحَقُّ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا حَلَّ الْحَقُّ قَالَ أَتَقْضِى أَمْ تُرْبِى فَإِنْ قَضَاهُ أَخَذَ وَإِلاَّ زَادَهُ فِى حَقِّهِ وَزَادَهُ الآخَرُ فِى الأَجَلِ.
“Dulu riba di masa jahiliah, seseorang memiliki suatu hak kepada orang lain sampat tempo tertentu. Apabila telah jatuh tempo, maka dia berkata, ‘Engkau mau membayarnya atau engkau tambahkan (ribakan)?’ Apabila dia bayar, maka dia ambil haknya dan jika tidak, maka orang tersebut menambahnya dan bertambah pula temponya.”[Muwaththa’Al- Imam Malik. Bab Maa Jaa-a fir-Riba fid-Dain, II/672 no. 1353]

Kaidah Memahami Riba

Para ulama juga telah membuatkan kaidah fiqhiyah untuk mengenal semua jenis riba, kaidah tersebut berbunyi:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
“Setiap perhutangan yang menghasilkan manfaat (untuk orang yang meminjamkannya), maka dia adalah riba.”
Kaidah ini sangat penting untuk mengenal berbagai macam jenis riba saat ini.

Hukum Deposito Bank

Kalau kita perhatikan kasus di atas, maka kita bisa menghukumi bahwa deposito bank dan mudharabah LKS di atas masih mengandung riba di dalamnya sehingga diharamkan. Karena sebenarnya orang yang mendepositokan uangnya di bank, dia sedang meminjamkan uangnya kepada bank, kemudian dia mendapatkan keuntungan dari uang yang dipinjamkan tersebut, keuntungan tersebut pasti dia dapatkan dan tidak ada resiko untuk rugi apabila bank rugi.
Jika keuntungan yang didapat tidak lebih dari 10 %, boleh atau tidak?
Sebagian orang menyangka bahwa boleh mendepositokan uang dengan alasan hasil yang didapat jika tidak besar, maka tidak mengapa. Sebagian orang mengatakan bahwa jika tidak lebih dari 10 % maka tidak mengapa. Bagaimana menanggapi hal ini?
Memang ada yang berpendapat demikian. Mereka salah dalam memahami ayat ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (130)
“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan!”, (QS Ali ‘Imran: 130)
Mereka mengatakan bahwa riba yang diharamkan adalah riba yang berlipat-lipat keuntungannya, sedangkan yang tidak berlipat-lipat maka tidak mengapa.
Mereka salah memahami ayat ini karena mereka mungkin tidak mengetahui bahwa larangan riba dilakukan dengan empat tahap pelarangan, yaitu sebagai berikut:
Tahap I: Firman Allah ta’ala:
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ (39)
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kalian berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS Ar-Rum: 39)
Pada ayat ini Allah hanya menyindir pelaku riba.
Tahap II: Firman Allah ta’ala:
فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160) وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (161)
“ (160) Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, (161) Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS An-Nisa’: 160-161)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa riba dilarang kepada orang-orang Yahudi, tetapi mereka masih melakukannya. Dan belum dijelaskan apakah riba juga diharamkan pada kaum muslimin.
Tahap III: Firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (130)
“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah