Sejarah Perjuangan FoKEI

Sejalan dengan pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia, tumbuh pula kelompok-kelompok studi Ekonomi Islam, terutama di kampus-kampus yang berkompeten dalam bidang ekonomi Islam.

Perniagaan yang Tak Akan Pernah Merugi

Semua manusia sepakat, meskipun secara tidak tertulis, bahwa target mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan, mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan. Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya. Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.

Sekilas Perbankan Syari'ah Indonesia

Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional. Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan.

Industri Keuangan Syari'ah NTB Maju Pesat

Industri keuangan syariah maju pesat. Selama lima tahun terakhir ini, keseluruhan asetnya mencapai Rp 144 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai lebih dari 40 persen. Bandingkan dengan pertumbuhan perbankan nasional yang mencapai 19 persen. Sedangkan pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan syariah secara nasional Rp 112,8 triliun. Jumlah tersebut untuk permodalan 40 persen dan modal kerja sisanya 60 persen.

Kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq Dalam Perekonomian

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu dari sahabat Nabi saw. Beliau juga merupakan khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi saw. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang adil dan jujur, sehingga menjadi tempat bertanya dan berlindung bagi kaumnya.

Selasa, 24 November 2015

MENGENAL ANJAK PIUTANG


ANJAK PIUTANG
Oleh: L. Marthayadi Zikrullah
Kebutuhan manusia kian hari semakin meningkat. Manusia selalu ingin mencari cara termudah untuk mencapai tujuannya. Salah satunya adalah dalam memenuhi kebutuhan ekonominya, manusia selalu tertantang untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dari kegiatan usaha yang dilakukan.
Dalam bidang keuangan banyak bermunculan lembaga keuangan yang berusaha berperan serta dalam memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu kita banyak mengenal yang namanya perbankan, perusahaan asuransi, koperasi, dan lainnya, mereka berusaha memberikan bantuan kepada masyarakat, perusahaan dan instansi lainnya dengan menawarkan jasa, pembiayaan modal maupun bantuan lainnya demi memudahkan, memperlancar dan memberikan kepuasan terhadap masyarakat atau klien yang bermitra dengannya dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Secara umum lembaga keuangan tersebut dibagi menjadi dua jenis, yakni lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non-bank. Berkembangnya lembaga-lembaga keuangan tersebut ditengah-tengah masyarakat sangat dirasakan manfaatnya. Salah satu contohnya adalah perusahaan anjak piutang atau dalam istilah bahasa inggrisnya dikenal dengan factor. Banyak perusahaan yang menggunakan jasa anjak piutang (factoring) dalam kegiatan operasionalnya. Disamping untuk mempermudah lalu lintas pembayaran, perusahaan juga memanfaatkan lembaga ini salah satunya untuk menghindari kredit macet. Seperti yang kita tahu, khususnya perusahaan yang bergerak dalam usaha perdagangan, banyak pelanggan yang membeli barang melalui mekanisme kredit kepada perusahaan. Karena dengan mekanisme ini biasanya pelanggan akan lebih banyak. Tapi disisi lain, resiko akan piutang yang tak tertagih sangatlah rentan terjadi. Maka dari itu, salah satu solusi bagi perusahaan adalah menggunakan jasa factoring.


Pokok Bahasan:
Berdasarkan pemaparan diatas, poin-poin inti yang kita ingin bahas pada kesempatan kali ini adalah tentang,
1.      Apa itu lembaga keuangan
2.      Pengertian anjak piutang
3.      Jenis-jenis anjak piutang dan mekanismenya.
4.      Manfaat anjak piutang
5.      Kesimpulan hukum anjak piutang dalam pandangan islam.

A.    Pengertian Lembaga Keuangan
Menurut Kasmir (2005) lembaga keuaganan adalah setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan yang kegiatannya adalah menghimpun dana dan atau menyalurkan dana. Sedangkan menurut Keputusan SK Menkeu RI no. 792 tahun 1990, bahwa lembaga keuangan ialah seluruh badan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan dimana hal yang dilakukan adalah menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat atau nasabah terutama untuk biaya investasi pembangunan.
Intinya lembaga keuangan adalah badan usaha yang kegiatannya menghimpun dan menyalurkan dana dari dan untuk masyarakat. Lembaga keuangan menyediakan jasa – jasa yang berkaitan dengan:
1.      Transformasi atau perpindahan asset keuangan melalui pasar,
2.      Perdagangan asset keuangan atas nama pelanggan,
3.      Perdagangan asset keuangan untuk kepentingan perusahaan sendiri,
4.      Membantu pembuatan asset keuangan untuk pelanggan dan menjual asset keuangan tersebut kepada pelaku pasar lainnya,
5.      Menyediakan konsultasi investasi kepada pelaku pasar yang lain,
6.      Mengelola portofolio para pelaku pasar lain.
Lembaga keuangan secara umum dibagi menjadi dua jenis yaitu, Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Non-Bank. Lembaga keuangan Bank dibagi menjadi tiga, Bank Sentral, Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Sedangkan Lembaga Keuangan Non-Bank terbagi menjadi Lembaga Keuangan Kontraktual, Lembaga Keuangan Investasi dan Lembaga Keuangan Lainnya.
1.      Bank Sentral merupakan lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah di suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan, serta menjalankan fungsi sebagai lender of the last resort (pemberi pinjaman terakhir). Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia.
2.      Bank Umum merupakan bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang  dalam  kegiatannya  memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. (UU No.10/1998). Contoh Bank Umum adalah Bank Mandiri, BRI dll.
3.      Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. (UU No.10/1998)
Lembaga Keuangan Kontraktual contohnya adalah asuransi, dan dana pension. Lembaga Keuangan Investasi contohnya Bank Investasi, Perantara, dan Pedagan Sekuritas. Dan terakhir Lembaga Keuangan Lainnya contohnya seperti pegadaian, leasing atau sewa guna usaha, modal ventura, koperasi, factoring atau anjak piutang dll.
Dengan mengetahui jenis-jenis lembaga keuangan ini, kami harapkan dapat mempermudah bahasan kita selanjutnya yaitu mengenai anjak piutang.

B.     Pengertian Anjak Piutang (Factoring)
Anjak piutang termasuk dalam kategori Lembaga Keuangan Non-Bank pada bagian Lembaga Keuangan Lainnya/ Lembaga Pembiayaan. Oleh karena itu memahami tentang anjak piutang tak terlepas dari pembahasan mengenai lembaga keuangan. Meskipun anjak piutang terpisah dari lembaga keuangan bank, tetapi perbankan banyak menggunakan system pembiayaan ini dalam praktiknya.
Adapun definisi anjak piutang adalah sebagai berikut; menurut PSAK 43 anjak piutang adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan yang berasal dari transaksi usaha. Sedangkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.021/2006 Tentang Persahaan Pembiayaan pasal 1 (e) bahwa Anjak Piutang (Factoring) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut.

Menurut Kasmir, perusahaan Anjak Piutang atau Factoring adalah perusahaan yang kegiatannya adalah melakukan penagihan atau pembelian, atau pengambilalihan atau pengelolaan utang piutang suatu perusahaan dengan imbalan atau pembayaran tertentu milik perusahaan.

Dari definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa kegiatan anjak piutang meliputi:

1.      Pengambil alihan tagihan suatu perusahaan, baik dengan cara dibeli atau dengan cara lain sesuai dengan kesepakatan.

2.      Mengelola usaha penjualan kredit pada suatu perusahaan.

3.      Penagihan piutang perusahaan klien.

Ada tiga perbedaan antara anjak piutang dengan pinjaman bank.

1.      Penekanan anjak piutang adalah pada nilai piutangnya, bukan kelayakan kredit perusahaan.

2.      Anjak piutang bukanlah suatu pinjaman, melainkan pembelian suatu asset.

3.      Pinjaman bank melibatkan dua pihak, sedangkan anjak piutang melibatkan tiga pihak.

C.    Jenis – jenis Anjak Piutang dan Mekanismenya
Fasilitas anjak piutang yan ditawarkan oleh perusahaan anjak piutang dapat dibedakan dalam berbagai jenis sebagai berikut:

1.      Berdasarkan Pelayanan
a.       Full Service Factoring
Anjak piutang jenis ini memberikan jasa secara menyeluruh, baik jasa pembiayaan maupun nonpembiayaan. misalnya urusan administrasi penjualan (sale ledger administration), tagihan dan penagihan piutang termasuk menanggung risiko terhadap piutang yang macet.
b.      Bulk Factoring
Anjak piutang jenis ini memberikan jasa pembiayaan dan pemberitahuan saat jatuh tempo pada nasabah, tanpa memberikan jasa lain seperti resiko piutang, administrasi penjualan, dan penagihan. Jasa factoring ini juga disebut dengan agency factoring yaitu transaksi yang mengaitkan perusahaan factoring sebagai agen dari klien. Bentuk fasilitas factoring ini pada dasarnya hampir sama dengan full service factoring, namun penagihan piutang tetap dilakukan oleh klien dan proteksi risiko kredit tidak dijamin perusahaan factoring.
c.       Maturity Factoring
Pembiayaan pada dasarnya tidak diperlukan oleh klien tetapi oleh pengurusan penjualan dan penagihan piutang serta proteksi atas tagihan.
d.      Finance Factoring
Anjak piutang jenis ini hanya menyediakan fasilitas pembiayaan saja tanpa ikut menanggung risiko atas piutang tak tertagih. Penyediaan pembiayaan dana tunai pada saat penyerahan faktur pada perusahaan factoring sampai sejumlah 80% dari nilai seluruh faktur sesuai dengan besarnya plafon pembiayaan (limit kredit). Klien tetap harus bertanggung jawab terhadap pembukuan piutang dan penagihannya, termsuk menanggung risiko tidak tertagihnya piutang tersebut.

2.      Berdasarkan Penanggungan Resiko
a.       With Recourse Factoring
Berkaitan dengan risiko debitur yang tidak mampu memenuhi kewajibannya. Keadaan ini bagi perusahaan anjak piutang merupakan ancaman risiko. Dalam perjanjian with
recourse, klien akan menanggung risiko kredit terhadap piutang yang dialihkan kepada perusahaan anjak piutang. Oleh karena itu, perusahaan anjak piutang akan mengemblikan tanggung jawab (recourse) pembayaran piutang kepada klien atas piutang yang tidak tertagih dari customer. uang muka proporsi tertentu kepada klien atas piutang atau faktur yang diserahkan.
b.      Without Recourse Factoring
Perusahaan anjak piutang menanggung risiko atas tidak tertagihnya piutang yang telah dialihkan leh klien. Namun, dalam perjanjian anjak piutang daat dicantumkan bahwa di luar keadaan macetnya tagihan dapat diberlakuakan bentuk recourse. Ini untuk menghindarkan tagihan yang tidak diabayar karena pihak klien ternayat mengirimkan barang yang cacat atau tidak sesuai dengan perjanjian kepada nasabahnya. Dengan demikian customer berhak untuk mengembalikan barang yang telah diserahkan tersebut dan terlepas dari kewajiban pembayaran utang. Dalam hal terjadi kasus demikin, perusahaan factoring dapat mengembalikan tagihan tersebut kepada klien.
3.      Berdasarkan Perjanjian
a.      Disclosed Factoring
Pengalihan piutang kepada perusahaan anjak piutang dengan sepengetahuan pihak debitur (customer). Oleh karena itu pada saat piutang terebut jatuh tempo perusahaan anjak piutang memiliki hak tagih pada debitur yang bersangkutan. Untuk dapat melakukan hal tersebut di dalam faktur dicantumkan pernyataan bahwa bahwa piutang yang timbul dari faktur ini telah dialihkan kepada perusahaan anjak piutang. Mekanisme anjak piutang dengan fasilitas disclosed dapat dilihat sebagai berikut:
·         Terjadi transaksi penjualan secara kredit kepada pelanggan (klien)
·          Negosiasi dan kontrak anjak piutang antara perusahaan (klien) dengan lembaga anjak piutang (factoring) dimana perusahaan menyerahkan kopi faktur penagihan piutang dan dokumen terkait lainnya sedangkan dokumen asli tetap dipegang perusahaan.
·         Lembaga anjak piutang memberikan pembiayaan maksimal 80% dari nilai faktur.
·         Pada saat jatuh tempo perusahaan akan menagih kepada debitur/pelanggan.
·         Perusahaan akan mengembalikan pinjaman dana kepada factoring ditambah dengan biaya anjak piutang (service charge/discount charge).
b.      Undisclosed Factoring
Transaksi penjualan atau pengalihan piutang kepada perusahaan anjak piutang oleh klien tanpa pemberitahuan kepada debitur kecuali bila ada pelanggaran atas kesepakatan pada pihak klien, atau secara sepihak perusahaan anjak piutang menganggap akan menghadapi risiko. Mekanisme Undisclose Factoring sebagai berikut:
·         Terjadi penjualan secara kredit kepada pelanggan (klien)
·         Negosiasi dan kontrak factoring antara perusahaan (klien) dengan lembaga anjak piutang dimana perusahaan menyerahkan faktur penagihan dan dokumen terkait lainnya (dokumen asli).
·         Perusahaan memberitahu kepada debitur kalau piutang dan penagihan sudah dialihkan ke lembaga anjak piutang.
·         Lembaga anjak piutang memberikan pembiayaan maksimum 80% dari nilai faktur.
·         Pada saat jatuh tempo lembaga anjak piutang melakukan penagihan kepada debitur.
·         Pelanggan (debitur) membayar tagihan kepada anjak piutang.
·         Lembaga anjak piutang menyerahkan sisa dan (20% Nilai faktur) kepada perusahaan (klien) setelah sebelumnya dikurangi biaya administrasi.
4.      Berdasarkan Lingkup Kegiatan
a.      Domestic Factoring
Kegiatan transaksi anjak piutang dengan melibatkan perusahaan anjak piutang, klien dan debitur yang semuanya berdomisili di dalam negeri.
b.      International Factoring
Kegiatan anjak piutang untuk transaksi ekspor impor barang yang melibatkan dua perusahaan factoring di masing-masing negara sebagai expor factor dan import
factor.

D.    Manfaat Anjak Piutang
1.      Bagi Klien
a.       Jasa Pembiayaan
1)      Peningkatan penjualan. Adanya jasa pembiayaan memungkinkan klien melakukan penjualan dengan cara kredit namun sulit untuk dilakukan apabila klien mengalami kesulitan modal. Dengan adanya jasa anjak piutang, klien mampu menjual secara kredit.
2)      Kelancaran modal kerja. Jasa anjak piutang memungkinkan klien untuk mengonversikan piutangnya yang belum jatuh tempo menjadi dana tunai dengan prosedur yang relatif lebih cepat.
3)      Pengurangan resiko tidak tertagihnya piutang. Pembiayaan dengan skema without
recourse memungkinkan adanya pengalihan sebagian resiko tidak tertagihnya piutang kepada factor. Pengalihan resiko ini sangat menguntungkan bagi kelancaran dan kepastian usaha bagi pihak klien.
b.      Jasa Non-pembiayaan
1)      Memudahkan penagihan piutang. Jasa penagihan piutang yang diberikan oleh
factor menyebabkan klien tidak perlu secara langsung melakukan penagihan piutang kepada nasabah, sehingga waktu dan tenaga karyawan dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan lain yang lebih produktif.
2)      Efisiensi usaha. Jasa administrasi penjualan memungkinkan klien untuk mengelola kegiatan penjualannya secara lebih rapi dan efisien karena administrasinya dikelola oleh pihak (factor) yang lebih berpengalaman.
3)      Peningkatan kualitas piutang. Jasa administrasi penjualan memugkinkan pemberian fasilitas kredit kepada pembeli secara lebih selektif sehingga kemungkinan tertagihnya piutang menjadi lebih tinggi.
4)      Memudahkan perencanaan arus kas (cash-flow). Jasa investigasi kredit / piutang memungkinkan klien untuk melakukan perkiraan waktu dan jumlah piutang yang dapat ditagih, sehingga memudahkan proyeksi arus kas usaha secara keseluruhan.
2.      Bagi Factor
Manfaat utama yang diterima factor adalah penerimaan dalam bentuk fee dari pihak klien. Fee tersebut terdiri dari:
1)      Discount fee/charge.
Fee ini dibayarkan oleh klien karena factor memberikan jasa pembiayaan (uang muka) atas piutang yang diberikan oleh factor.
2)      Service/charge.
Fee ini dibayarkan oleh klien karena factor memberikan jasa nonpembiayaan yang nilainya ditentukan sebesar presentase tertentu dari piutang atas dasar beban kerja yang akan dilakukan oleh factor.
3.      Bagi Nasabah
Nasabah memperoleh manfaat berupa:
1)      Kesempatan untuk melakikan pembelian secara kredit. Kehadiran jasa pembiayaan memungkinkan klien untuk melakukan penjualan secara kredit.
2)      Layanan penjualan yang lebih baik. Jasa administrasi penjualan memungkinkan klien melakukan penjualan dengan lebih cepat dan tepat.

E.     Kesimpulan Hukum dalam Pandangan Islam
Pada bagian ini, kami mengharapkan hidayah dan tambahan ilmu dari Allah subhanahu wa Ta’ala untuk menjelaskan hukum dari akad pengalihan piutang/anjak piutang atau dikenal dalam istilah fiqh sebagai Hiwalah. Tentu dalam mengambil kesimpulan hokum ini kami meninjau dari berbagai sumber dan keterangan para ulama terutama Fatwa dari Dewan Syari’ah Nasional MUI.
Setelah kita membahas panjang lebar tentang anjak piutang, mulai dari pengertian sampai manfaatnya, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam praktik pengalihan piutang terdapat bunga atau tambahan pembayaran dari klien kepada perusahaan factoring(factor). Factor menganggap bahwa tambahan pembayaran tersebut merupakan fee atau imbalan jasa atas pengalihan piutang.
Pada mekanisme factoring, kita dapat mengetahui bahwa klien memiliki piutang pada nasabah akibat dari transaksi jual beli atau jasa. Kemudian klien meminjam uang kepada factor yang nilainya lebih kecil dari jumlah piutangnya kepada nasabah. Karena pada umumnya, jumlah pembiayaan yang diberikan oleh factor sebagaimana dijelaskan diatas adalah maksimal 80% dari jumlah piutang klien terhadap nasabah. Sisanya yang 20% akan dikembalikan kepada klien setelah nasabah full melunasi utangnya. Jumlah persentase pengembalian sisa tersebut dikurangi dengan biaya administrasi atau biaya anjak piutang. Jadi tidak sepenuhnya yang 20% dikembalikan oleh factor, tetapi dikurangi terlebih dahulu dengan biaya-biaya lain, bahkan ditambah dengan bunga.
Oke, untuk baiknya mari kita simak dahulu  dalil-dalil tentang anjak piutang atau hiwalah. Dalil-dalil ini saya nukilkan dari Fatwa DSN MUI NO: 12/DSN-MUI/IV/2000.
1.      Hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
 “Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah” (HR. Bukhari).
2.      Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
3.      Ijma. Para ulama sepakat atas kebolehan akad hawalah.
Berdasarkan hadits atau dalil dari Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam diatas, pada dasarnya hokum anjak piutang atau hiwalah adalah mubah karena tidak ada dalil yang melarangnya. Karena dalam kaidah fiqh disebutkan bahwa “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Tapi timbul pertanyaan, apakah transaksi atau akad hiwalah yang dilakukan oleh perusahaan factoring diatas sudah sesuai syari’at atau tidak.? Factoring yang dilakukan oleh factor maupun klien dan nasabah, jika ada unsur bunga atau tambahan pembayaran dalam akad hutang piutang, maka ini sudah jelas terlarang dalam agama.
Pada pembahasan saya sebelumnya, telah saya sebutkan tentang riba beserta jenisnya, dan apakah bunga itu termasuk kedalam riba atau tidak, Alhamdulillah sudah terjawab pada tulisan sebelumnya. Maka pada pembahasan kali ini, kita bersepakat bahwa bunga itu termasuk riba. Oleh karena itu setiap transaksi atau akad yang mengandung unsur bunga, maka terlarang dalam agama islam. Begitupun jika dalam persyaratan factoring diatas diberikan tambahan pembayaran dengan istilah biaya administrasi atau jasa pengalihan piutang, maka pada hakikatnya itu adalah kelebihan pembayaran. Yang benar adalah seharusnya tidak boleh ada tambahan apapun dalam akad utang piutang. Karena setiap tambahan dalam hal ini adalah termasuk riba.
Namun demikian, jika biaya administrasi atau layanan tersebut wajar, dalam arti biaya-biaya tersebut untuk keperluan administrasi pengalihan piutang seperti pengurusan surat dan lainnya, maka wallahu a’lam dibenarkan dalam syari’at. Karena dalam hal ini yang meminta untuk pengalihan piutang adalah dari pihak klien, maka sudah sepantasnya dia membayar biaya pengalihan tersebut. Tentunya biaya pengurusan surat-surat tidak akan mencapai nominal yang terlalu besar. Dari biaya fotocopy factur, penandatanganan, materai dan sebagainya seharusnya tidaklah besar. Disinilah titik kerentanannya terjadi penyalahgunaan, yang pada akhirnya berakibat terjatuh pada transaksi ribawi. Wallahu a’lam.
Selanjutnya untuk menjadi catatan, dalam praktik diatas ada sisa 20 persen. Sisa ini harus full dikembalikan kepada klien dan harus dipisahkan dari biaya administrasi atau layanan. Karena pada dasarnya dia merupakan jenis transaksi tersendiri.
Demikian pembahasan kali ini, semoga apa yang kami sampaikan bisa dipahami dengan benar dan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari jika sekiranya diperlukan untuk bertransaksi pada akad hiwalah ini. Yang benar tentu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang salah dari kekurangan ilmu saya dan dari setan. Maka dari itu kritik dan sarannya kami tunggu.
Wallahu Ta’ala A’lam

Daftara Pustaka:
-          Amanitanovi@uny.ac.id – Ebook “Anjak Piutang”
-          Fatwa DSN MUI
-          Kasmir. (2005). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
-          Siamat, Dahlan, Manajemen Kembaga Keuangan Edisi 4, Jakarta: LP-FEUI, 2004





     Versi PDFnya bisa di Download disini